Waspadai! Pola Pengasuhan Seperti Ini Penyebab Anak Bisa Jadi Pelaku Bullying

Melita Rahmalia

Love to write about women empowerment, career and business, and relationships.

Banyaknya berita yang beredar tentang perilaku bullying dan kekerasan yang dilakukan anak-anak kerap kali membuat orangtua khawatir.

Khawatir jika ternyata anak-anak menjadi korban, atau malah pelaku.

Untuk meminimalisir kemungkinan munculnya perilaku bullying dan kekerasan pada anak-anak Anda, kenali apa yang menyebabkan mereka beresiko mempunyai perilaku seperti itu, dan pola pengasuhan apa yang menyebabkannya.

Faktor penyebab anak cenderung menjadi pelaku bullying. 

1. Konsep diri anak yang rendah

Menurut riset dari Yulianto yang berjudul “Hubungan Antara Kecerdasan Emosi dan Konsep Diri dengan Kenakalan Remaja”, salah satu faktor yang mempengaruhi kenakalan pada anak adalah konsep diri anak.

Konsep diri adalah bagaimana seorang individu memandang kondisi tubuh dan penampilannya (aspek fisik) dan kemampuan, harga diri, dan rasa percaya dirinya (aspek psikologis).

Dalam riset yang diterbitkan Jurnal Nusantara of Research itu disebutkan, semakin rendah konsep diri anak, maka semakin tinggi kemungkinan ia melakukan kenakalan.

2. Kemampuan adaptif norma sosial yang rendah

Riset itu juga menunjukkan, anak dalam masa remaja tengah berada dalam masa-masa pembentukan jati diri. Ia mulai keluar dari lingkungan keluarganya untuk membaur di masyarakat.

Hal ini menyebabkan adanya emosi storm and stress. Apabila tidak terkelola dengan baik akan menyebabkan anak bingung dalam membentuk jati dirinya.

Apalagi jika ia juga mempunyai lingkungan yang memberikan pengaruh kurang baik.

Anak-anak yang melakukan kenakalan biasanya mempunyai masalah namun tidak mampu menyelesaikan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat.

Mereka tidak merasa keberatan untuk melanggar norma sosial dan melakukan tindakan kenakalan yang menurut diri mereka perlu dilakukan.

3. Kemampuan penyelesaian masalah dan pengendalian diri yang rendah, tapi sikap berlebihan

Apabila anak punya masalah, atau frustasi akan satu hal, namun tidak bisa menyelesaikannya dengan baik, maka ia cenderung mengekspresikannya dengan tindakan berlebihan.

Hal itu mendorong anak untuk melakukan kenakalan remaja. Apalagi jika ia memiliki pengendalian diri yang rendah.

Nah, masalahnya, tiga hal di atas bisa saja merupakan akibat dari kesalahan pengasuhan di pihak orangtua.

Ini beberapa pola pengasuhan yang mengakibatkan anak menjadi pelaku bullying.

Menurut Tutut Chusniyah dari Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang, ada tiga pola pengasuhan yang mengakibatkan anak bisa menjadi pelaku bullying.

Pola asuh otoriter

Dalam pengasuhan authoritarian, anak diasuh dengan disiplin kaku dan kadang dengan kekerasan.

Pola asuh permisif

Dalam pola asuh permisif, anak cenderung dibolehkan dan dituruti semua keinginannya. Anak cenderung dimanjakan.

Pola asuh uninvolved

Anak cenderung disia-siakan sehingga diberi kebebasan tanpa adanya panduan nilai moral yang seharusnya ia anut dan adopsi.

Tanpa mengekang, orang tua dapat mengarahkan anak pada kegiatan positif. (Ilustrasi foto: Pexels)

Ketiga pola pengasuhan tersebut terindikasi berisiko membuat anak mempunyai konsep diri yang rendah, membangun sikap anti-sosial dan menimbulkan sifat-sifat yang mungkin akan memicu kenakalan dan kekerasan nantinya.

Berdasarkan informasi ini, maka Moms dapat menentukan target pengasuhan agar anak dapat mempunyai konsep diri yang jelas, mampu melakukan adaptasi sosial, mampu menyelesasikan masalah, serta punya pengendalian diri.

Itulah target sikap yang harus menjadi tujuan ketika melakukan pengasuhan kepada anak-anak.

Selain pola pengasuhan, lingkungan tempat ia tumbuh dan bergaul juga sangat mempengaruhi. Pengaruh teman-teman kepada anak Anda tidak bisa disepelekan.

Apalagi saat anak remaja. Mereka biasanya mulai mencari role model dari teman-teman sebayanya. Berikan guideline untuk bisa memilih-milih teman yang baik, karena nantinya pengaruh teman-teman ini akan sangat berdampak kepada perilakunya.

Sebagai orangtua, perkaya wawasan mengenai pola pengasuhan yang baik.

Anda juga perlu belajar menyeimbangkan antara membuat anak senyaman mungkin sehingga ia tidak takut bertukar pikiran.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.