Ubaidillah Muchtar, Menghidupkan Multatuli dari Rangkasbitung

sicaharum

Managing Editor, dapat dihubungi di redaksi@zeremedia.com

Dok. Pribadi.

Seratus lima puluh enam tahun yang lalu, Multatuli menggedor perhatian warga dunia, terutama masyarakat Belanda. Karyanya, Max Havelaar, menjadi karya pertama yang lantang membeberkan nasib buruk rakyat jajahan. Dalam buku itu, Multatuli menulis sistem tanam paksa yang menindas kaum bumiputera, utamanya di Lebak, Banten.

Kini, lebih dari satu setengah abad kemudian, Museum Multatuli baru berdiri  di Lebak, Banten. Gedung museum sudah jadi sejak 1 Desember 2016, namun belum dibuka untuk umum karena masih dalam tahap pengadaan konten.

Ubaidillah Muchtar ditunjuk sebagai Kepala Museum Multatuli. Ubai, begitu ia biasa dipanggil, memang sosok yang tepat.

Sejak 2006, ia mengelola Taman Baca Multatuli di Kampung Ciseel, Kecamatan Sobang, Lebak, Banten, yang saat itu bahkan belum mendapatkan aliran listrik.

Kegiatan utama di tempat itu ialah Reading Group Max Havelaar, yang memang khusus mengkaji Max Havelaar. Anggotanya, kebanyakan anak-anak SD di kampung tersebut. Ubai mendampingi mereka membaca dengan pelan, setiap pekan, kalimat demi kalimat. Bisa dibilang, Ubai hapal luar dalam semua hal tentang Multatuli.

“Sebagai manusia, Multatuli punya tiga kelebihan. Yaitu peka terhadap ketidakadilan, tahu harus berbuat apa jika ketidakadilan terjadi, dan yang ketiga, ia pandai menulis,” ujar Ubai.

Berikut perbincangan lengkap kami dengan Ubaidillah Muchtar, melalui surat elektronik.

Apa kabar Kang Ubai? Sibuk apa saja saat ini?

Baik, saya sedang mempersiapkan museum. Masih banyak yang harus dikerjakan, terutama perencanaan dan koordinasi.

Sejak awal tahun saya banyak mempelajari dokumen-dokumen pekerjaan, membaca banyak referensi soal Cagar Budaya dan museum, juga bertemu para pengelola cagar budaya lainnya.

Targetnya, tahun 2017 ini kami sudah buka dengan konten yang menarik.

Kayanya sudah banyak yang enggak sabar ya. Sudah banyak yang selfie di museum.

Hahaha, kok tahu banyak yang selfie. Memang betul, di media sosial Instagram, banyak sekali foto dengan #museummultatuli, ada sekitar  Banyak warga yang datang ke museum dan foto-foto. Terutama yang muda-muda.

Gedung Museum Multatuli memang sudah jadi sejak  1 Desember 2016. Sejak itu, banyak yang datang dan foto-foto. Menurut saya, bagus, jadi bisa sekalian mempromosikan. Tapi ya itu, ada masalah juga.  Banyak yang bertanya, kapan museum dibuka untuk umum. Hal ini sudah diantisipasi. Kami persiapkan petugas untuk menjawab keresahan tersebut.

Jadi, aspek visual penting ya buat promosi Museum Multatuli?

Betul, penting banget. Saat wawancara ini, misalnya, sudah ada 743 #museummultatuli di Instagram.  Kami juga sudah ada akun, @museummultatulilebak. Lumayan, sudah ada 1.269 follower sejak postingan pertama 26 Januari 2017.

Kami juga membuat e-poster, untuk promo secara visual. Begitu pula tampilan gedung museum dan pernak-perniknya disiapkan jadi objek foto. Karena generasi sekarang kan sangat visual banget. Menemukan objek foto yang bagus langsung jepret.

Museum Multatuli di Lebak, Banten. (Dok. Pribadi)

Hal-hal apa yang bisa dipelajari para “manusia modern” dari Multatuli dan bagaimana museum ini menjadi relevan dengan konteks saat ini. 

Kita akan belajar dan diingatkan untuk anti korupsi, anti kolonialisme, anti penindasan, terus menyebarkan semangat kemanusiaan, humanisme, dan kejujuran.

Saya pikir semangat Multatuli tidak mati. Selalu hidup sebagai sebuah cermin agar manusia –seperti yang ia kemukakan-, menjadi manusia. Katanya, “The calling of man is to human”.

Panggilan nurani manusia ialah untuk menjadi manusia. Imajinasi itu yang harus selalu hidup agar kemanusiaan dapat terawat dengan baik. Agar nilai-nilai kemanusiaan selalu ada dan dipraktikan dalam kehidupan.

Maka, akan lebih baik jika membaca karya Multatuli, “Max Havelaar” dan dibaca dengan pelan-pelan agar nilai-nilainya dapat tumbuh dan hidup dalam diri pembaca.

Museum Multatuli akan mencoba menampilkan proses bagaimana kolonialisme itu datang bersinggungan dengan sejarah lokan Banten dan Lebak, hingga kemudian Multatuli hadir.

Multatuli membawa nilai bahwa kolonialisme dan feodalisme membunuh dua kali masyarakat Hindia Belanda. Mulatuli hadir sebagai seorang yang membebaskan. Multatuli hadir sebagai contoh dari manusia yang memiliki tiga kelebihan. Yaitu peka terhadap ketidakadilan, tahu harus berbuat apa jika ketidakadilan terjadi, dan yang ketiga, ia pandai menulis.

Di rumah Harry A. Poeze, sejarawan Belandan yang meneliti Tan Malaka, di Belanda. (Dok. Pribadi)

Apa bayangan Kang Ubai tentang Museum Multatuli ini, apa yang akan diterapkan dari pengalaman Kang Ubai ke Belanda 20 April -1 Mei 2016 lalu?

Banyak cerita menarik dari kunjungan itu. Saya di sana mengunjungi Museum Multatuli di Amsterdam, Arsip Nasional Belanda di Den Haag, mengunjungi Perpustakaan Ilmu Sosial dan Politik, mengunjungi Perpustakaan di Amsterdam, mengunjungi kediaman sejarawan ahli Tan Malaka, Pak Harry A Poeze, dan tempat lainnya.

Ya, belajar mencintai sejarah sekaligus belajar betapa pentingnya proses pencatatan dan pendokumentasian.

Hal lain yang menginspirasi ialah bagaimana tata kota dan masyarakat berjalan harmonis. Tata kota yang nyaman bagi penduduk dan pendatang, sekaligus nuansa kota yang manusiawi. Rapi, tertib, menyenangkan dengan beragam aktivitas warga.

Dari kunjungan tersebut, banyak yang nantinya dapat diimplementasikan di Museum Multatuli. Intinya ialah pelayanan kepada pengunjung agar nyaman dan tertarik mengenal lebih dekat dengan Multatuli.

Museum sendiri akan menampilkan sosok Multatuli, proses kolonialisme, sejarah Banten dan Lebak, dengan cara penyampaian yang menyenangkan. Selain tampilan visual, narasi yang kuat juga penting.

Buat saya, lebih penting lagi membuat museum menjadi rumah bagi warga Lebak. Ini tentang bagaimana agar mereka nyaman dan tertarik datang ke museum. Saya ingin nantinya pelayanan bisa baik, tempatnya enak, petugasnya ramah, dan petunjuk-petunjuknya jelas.

Semoga nanti konten Museum Multatuli dapat mewakili museum antikolonial, dan menarik sesuai harapan warga masyarakat Lebak juga Indonesia. Akan ada patung Multatuli, Saijah, dan Adinda. Ada beragam barang yang akan ditampilkan. Jadi tempat kunjungan untuk belajar dan wisata sejarah yang menyenangkan.

***

Anak-anak Reading Group Max Havelaar. (Dok. readingmultatuli.com)

Ubaidilah Muchtar, pernah bekerja sebagai guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri Satu Atap 3 Sobang, Lebak, Banten.  Ia nge-kost di rumah ketua RT di Kampung Ciseel, dan mendirikan taman baca pada 2006. Ia membawa buku-bukunya dari rumahnya di Depok Sawangan ke Ciseel, menggunakan sepeda motor, melintasi jalan kecil yang sulit ditempuh.

Di taman baca tersebut, Ubai mendampingi anak-anak membaca kalimat demi kalimat. Max Havelaar dibaca lambat-lambat. Setiap selesai satu kalimat, anak-anak Ciseel selalu heboh bertanya kata-kata yang tidak dimengerti.

Kelompok baca gelombang pertama itu berhasil menyelesaikan Max Havelaar dalam waktu 37 pekan. Ubai mencatat proses tersebut tiap pekan, dan membukukukannya dalam “Anak-Anak Multatuli.”

Dengan membaca buku itu, Anda akan mendapati bagaimana metoda membaca pelan berjamaah ini berhasil meresapkan tak cuma alur cerita Max Havelaar, tetapi juga emosi, cara pandang, idealisme setiap tokoh, hingga empati kemanusiaan lainnya.

Mengutip kata Ubai, “Max Havelaar ada di dada mereka, mengisi relung-relung jiwa mereka, meneteskan cahaya bagi mereka, bagi kehidupan mereka, bagi sejarah kampung halaman mereka, bagi sejarah tanah kelahiran mereka, tanah Multatuli, tanah Lebak.”

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.