Setia dalam Perbedaan

chichi bernardus

Editor-in-Chief

Ibu dari Reginald, Jadzia, Leila dan Meira yang suka menyeduh teh dan menghidu minyak atsiri. Aktif sebagai anggota The Climate Reality Project dan Slow Food. Founder dari Wastra Carita dan Ra'Medheni Bags. Guru Yoga untuk anak ini pernah menjadi pemimpin redaksi Majalah Fit, Women's Health Indonesia, Men's Health Indonesia dan Marketplus.co.id. Bersama Bunga Mega, Chichi mendirikan komunitas Mamaboss Indonesia.

Semangat sungguh menyambut 17 Agustus  kali ini. Pertama-tama karena baru mengunjungi beberapa daerah di Indonesia yang belum pernah saya kunjungi. Kedua sedang mengerjakan sebuah buku tentang kuliner Indonesia, dan terakhir karena Upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi tahun ini terasa meriah dengan aneka pakaian adat yang dikenakan para hadirinnya.

Limabelast tahun lalu, tepatnya 1992, saya pernah menjadi tamu negara di upacara yang sama. Ketika itu, jabatan presiden masih dipegang oleh Soeharto. Sebagai Mahasiswa Berprestasi Peringkat I dari — ketika itu masih 27 propinsi, saya selama dua minggu menjalani masa karantina yang seru. Ujung-ujungnya hadir di Istana Negara untuk Upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi, bahkan sempat makan siang bersama presiden dan para menteri. Yang paling menyenangkan toh menghabiskan waktu dengan mahasiswa dari seluruh Indonesia. Kami begitu berbeda. Dari dialek dan aksen bicara sekalipun, kami begitu berbeda walau sama-sama menggunakan Bahasa Indonesia. Tapi kami adalah Indonesia.

Belasan tahun kemudian, semangat nasionalisme saya makin meningkat. Hati rasanya tersobek-sobek melihat ada yang mencoba untuk mengubah persatuan dari kita yang begitu berbeda-beda. Seringkali ketika menghadiri berbagai acara yang mengharuskan menyakikan lagu kebangsaan Indonesia Raya atau lagu-lagu wajib lain, air mata saya menitik— saya ini simbok gembeng (cengeng). Begitu saya menjuluki diri saya.

Maka parade sejumlah pakaian daerah pada upacara pengibaran bendera di Istana Merdeka dan pakaian daerah yang dikenakan pada hadirin lagi-lagi menjadi momen yang mengharukan sekaligus membanggakan. Kita ini berbeda namun satu dan terutama SETIA dalam PERBEDAAN (kepada NKRI) . Perbedaan semestinya menjadi kekuatan, bukan kelemahan, karena PERBEDAAN itu adalah anugerah yang diberikan oleh Sang Pencipta.

MERDEKA, beautiful ZERE People…

Chichi Bernardus

 

 

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.