Satu Dari Dua Perusahan Indonesia Tidak Siap Menanggulangi Risiko Bisnis

sicaharum

Managing Editor, dapat dihubungi di redaksi@zeremedia.com

Ilustrasi. (Foto: Pexels)

Hampir 50% perusahaan tidak memiliki asuransi tanggung gugat bisnis sama sekali. Sebagian besar dari mereka menunggu sampai terkena dampak risiko untuk memiliki asuransi.

Demikian hasil kajian terbaru QBE Insurance yang menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan Indonesia tidak memiliki kesiapan untuk menghadapi krisis.

Hanya 54% dari perusahaan-perusahaan yang disurvei memiliki asuransi tanggung gugat bisnis seperti tanggung gugat pihak ketiga, tanggung gugat publik, gangguan usaha, tanggung gugat produk, tanggung gugat cyber, tanggung gugat pemberi kerja, tanggung gugat dewan direksi dan tim manajemen, atau jaminan indemnitas profesi.

“Salah satu temuan penting dalam laporan ini adalah perusahaan di Indonesia memerlukan lebih banyak edukasi,” ujar Aziz Adam, Presiden Direktur QBE General Insurance Indonesia (QBE Indonesia), melalui keterangan media, 20 Juli 2017.

Kajian QBE yang diberi judul “Harga Sebuah Penyesalan” ini didasarkan pada wawancara 300 UKM dan perusahaan skala besar di Indonesia.

Wawancara yang berlangsung pada April dan Mei 2017 ini berfokus pada berbagai risiko bisnis, baik yang ada sekarang maupun di masa depan. Selain itu, kajian ini juga memuat temuan tentang berbagai peluang dan persiapan perusahaan untuk menanggulanginya.

“Jika tidak memiliki asuransi tanggung gugat, perusahaan-perusahaan kehilangan kesempatan untuk memberikan kompensasi, serta berpotensi menempatkan bisnis, konsumen, dan masyarakat umum dalam risiko yang lebih tinggi,” kata Aziz.

Ia menjelaskan, dalam 12 bulan terakhir, risiko yang paling sering ditemui adalah: kehilangan pendapatan karena gangguan usaha (32%); inventaris yang hilang atau rusak (23%); kerusakan peralatan (22%); peretasan sistem bisnis dan komputer (20%); kerusakan bangunan perusahaan (20%); kecelakaan kerja (20%); dan penipuan melalui internet (10%)

“Berdasarkan kajian, kami menemukan bahwa 31% dari perusahaan-perusahaan Indonesia menerima tuntutan hukum karena masalah produk atau layanan mereka pada tahun lalu,” tambah Sattar

Ia juga menilai, berdasarkan kajian tersebut, umumnya perusahaan di Indonesia paham dan memiliki asuransi bisnis umum dengan bentuk yang berbeda-beda.

Tapi sebagian besar dari mereka tidak memahami dan memiliki asuransi tanggung gugat bisnis.

“Sangat mengkhawatirkan bahwa banyak perusahaan tidak sadar akan adanya berbagai risiko finansial yang mungkin timbul karena tidak memiliki asuransi tanggung gugat, kata Sattar.

Ia juga mendapati, banyak perusahaan juga berpikir bahwa asuransi tersebut hanya untuk perusahaan skala besar.

“Jelas, mereka kurang menyadari dan memahami bahwa produk asuransi memiliki polis perlindungan finansial,” ujar Sattar

 

 

 

 

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.