Personal Shopper, Pahlawan Belanja Keluarga Sibuk

sicaharum

Managing Editor, dapat dihubungi di redaksi@zeremedia.com

Lusiana Dewi, Personal shopper HappyFresh berbelanja untuk kebutuhan pelanggan. (Foto: Dok. HappyFresh)

Aplikasi ponsel masa kini memudahkan kehidupan banyak orang. Butuh transportasi, tinggal pesan. Ingin makan, pesan pakai aplikasi. Belanja bulanan pun begitu, cukup dengan aplikasi.

Misalnya, menggunakan aplikasi HappyFresh.

Biasanya, kita menghabiskan waktu belanja sekitar empat sampai lima jam untuk belanja bulanan, sudah termasuk macet, sulitnya cari parkir, dan antri di kasir. Maka dengan aplikasi, kita cukup order lalu menunggu di antara kesibukan lainnya.  

Simple bagi customer, tapi jadi sebuah perjuangan bagi orang-orang yang bekerja di baliknya.

Begitu order masuk melalui sistem, personal shopper dengan sigap mencarikan barang pesanan di rak-rak supermarket, menginformasikan barang kosong, sekaligus menawarkan alternatif. Jika setuju, mereka akan sekalian membelanjakannya.

Beres urusan di kasir, giliran rider yang sigap mengambil barang belanja dan mengantarkan sampai ke rumah pelanggan.

Dalam sehari, rata-rata personal shopper bisa berbelanja 5-10 pesanan. “Rata-rata segitu karena order juga ramai,” ujar Lusiana Dewi, personal shopper yang bergabung sejak 2015.

Sehari-hari Lusi bersiap di toko yang menjadi tanggungjawabnya, salah satunya di Superindo Bintaro. Kadang-kadang ia bertemu customer yang selama ini tak pernah ia tahu.

“Kadang kalau lagi belanja, ada yang mendatangi kita lalu bilang bahwa dia customer HappyFresh. Itu  yang bikin senang,” katanya.

Sebagai personal shopper, Lusi terlatih untuk cekatan memilih produk. Dibandingkan dua tahun lalu saat masih bekerja sebagai pramuniaga, Lusi merasa kini pengetahuannya bertambah. Ia jadi tahu banyak produk bagus. “Pendapatan juga lebih baik. Saya bisa kasih lebih buat ibu,” ujarnya. 

Jika stok lengkap, dan produk segar tersedia di toko, Lusi bisa mengerjakan tugasnya dengan cepat dan riang. Umumnya, customer juga senang dengan pilihan produk segarnya.  Tapi saat stok kosong, ia mesti siap berkomunikasi dengan pelanggan yang umumnya bete.

Verawati, team leader di HappyFresh.

“Biasa lah ya. Namanya kerja, dimana-mana ada suka dukanya. Ada customer yang baik sekali, sampai suka ngasi makanan. Ada juga yang marah-marah. Biasa lah,” cerita Verawati, salah satu team leader HappyFresh.

Vera pertama kali bergabung pada 2015, setelah membaca lowongan pekerjaan melalui media sosial Facebook. Sebelumnya, Vera bekerja sebagai buruh pabrik.

“Dulu ya enggak langsung jadi team leader. Jadi personal shopper dulu,” katanya.

Ia mendapat pelatihan tentang sistem, lalu langsung belajar di lapangan. Vera pertama kali mesti tandem dengan seniornya. Ia diajari memilih produk, urutan belanja barang dengan mendahulukan belanja barang-barang non fresh dulu baru belanja produk segar, hingga diajari berkomunikasi dengan pelanggan. Terutama jika ada barang pesanan yang kosong.

Dalam hitungan bulan, Vera diangkat jadi team leader. Wilayah tanggung jawabnya mencakup empat toko di kawasan Kalibata, Duren Tiga, hingga Taman Mini.

“Saya sekarang bisa bantu ibu. Nyuci udah bisa pakai mesin cuci biar enggak capek. Masak dulu pake dandang, sekarang udah pakai magicom. Sekarang ibu juga sudah pakai blender, biar enggak capek ngulek sambel,” cerita Vera, anak kedua dari empat bersaudara.

Vera tinggal di Cibubur. Sehari-hari, ia hampir selalu menyambangi toko-toko yang menjadi tanggungjawabnya. Lewat aplikasi messenger, ia berkoordinasi dengan para shopper yang siap sedia di toko dan membelanjakan pesanan konsumen, serta para rider yang bertugas mengantarkan belanja langsung ke alamat konsumen.

“Kalau libur, koordinasi jalan terus meski enggak ke toko. Handphone bunyi terus,” katanya lalu tertawa.

Sebagai team leader, ia merasa belajar tentang kepemimpinan. Meski dikenal sebagai leader yang galak, Vera juga mengaku terbuka atas masukan para anggota timnya.

“Di sini kekeluargaan. Mungkin karena sudah lama bareng-bareng juga ya. Sebulan sekali, biasanya saya ajak teman-teman makan bersama. Kita yang masih single  iuran, ajak semua tim untuk makan bersama.”

Keluarga baru, kata Vera, ia dapatkan selama bekerja.

Dua rekan Vera sesama team leader, Izul dan Rizal, juga sepakat. Bekerja langsung di lapangan, memberi komando tim-tim kecil yang menjadi ujung tombak perusahaan membuat mereka berkembang menjadi pribadi-pribadi yang lebih tangguh.

“Kalau dulu saya kerja di dapur, jadi tukang masak. Kerjanya ya itu saja. Sekarang, banyak hal yang dipelajari,” kata Izul.  

Kendala di lapangan juga harus selalu diatasi. Mulai dari barang kosong, hingga komplain pelanggan, harus bisa mereka hadapi dengan bijak.

“Kalau mentok enggak bisa atasi masalah, ya hubungi kantor,” cerita Rizal.

Rizal, fokus mengelola tim untuk kepuasan pelanggan.

Setiap senin, para team leader berkumpul di kantor dan mengulas pekerjaan mereka minggu lalu. Mereka bicara dengan sesama leader,  berkonsultasi dengan analis, tim keuangan, bahkan tim yang mengurus teknologi sistem. Tujuannya, semata untuk kepuasan pelanggan.

Rizal yang juga bergabung pada 2015, pernah menjadi rider dan shopper. Saat ini ia membawahi 16 orang shopper dan rider untuk kawasan Gading. Adapun Izul, memimpin 14 orang di timnya.

Pernah suatu kali, pelanggan belanja dengan pilihan kartu kredit. Ketika rider tiba mengantarkan belanjaan, proses pembayaran menggunakan kartu kredit pelanggan terganjal sinyal.

“Sampai harus turun ke bawah buat dapat sinyal. Tapi ternyata declined. Kembali ke atas, pintu apartemen sudah ditutup,” cerita Rizal, lalu tersenyum.

Izul mengiyakan. Banyak cerita-cerita serupa yang dirasakan personal shopper di lapangan. Namun, semua itu tidak menyurutkan semangat mereka menunjukkan kinerja yang baik.

“Kalau saya, patokannya rider. Selama rider enggak menyampaikan komplain customer, itu sudah tenang. Tinggal nunggu, apa ada komplain dalam dua sampai tiga hari ke depan,” kata Izul.

Kadang-kadang, ketika customer berbaik hati memberi uang tip atau bingkisan, baik personal shopper dan rider bisa kecipratan rezeki. “Bukan itu juga yang dikejar sih, karena memang sudah kewajiban kerja yang baik.”

Kepuasan hati mereka sesederhana senyuman customer yang puas dengan belanjaan tiba di depan pintu. Dengan begitu, teknologi tak melunturkan interaksi antar manusia, yang sejatinya memang butuh di’manusia’kan.  

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.