Ohana…Means Family

chichi bernardus

Editor-in-Chief

Ibu dari Reginald, Jadzia, Leila dan Meira yang suka menyeduh teh dan menghidu minyak atsiri. Aktif sebagai anggota The Climate Reality Project dan Slow Food. Founder dari Wastra Carita dan Ra'Medheni Bags. Guru Yoga untuk anak ini pernah menjadi pemimpin redaksi Majalah Fit, Women's Health Indonesia, Men's Health Indonesia dan Marketplus.co.id. Bersama Bunga Mega, Chichi mendirikan komunitas Mamaboss Indonesia.

 

“Ohana means family. Family means nobody gets left behind or forgotten.”

Kutipan dari film Disney Lilo and Stitch, sengaja saya pinjam dalam rangka memperingati International Family Day yang jatuh 15 Mei lalu.

Ketika dikaitkan dengan memori sendiri bersama keluarga, pasti Anda bakal mbrebes mili, terharu. Mungkin pernah punya pengalaman yang mirip misalnya pernah berbuat salah pada ayah ibu, tidak naik kelas atau rapornya kebakaran (kalau yang ini sih saya nggak pernah), atau dengan penuh rasa malu mengakui diri sendiri sedang patah hati gara-gara ngotot pacaran dengan seseorang yang sudah diwanti-wanti ayah dan ibu, bukanlah orang yang tepat untuk Anda (LOL!)

Setiap anggota keluarga mungkin menanggapi kesalahan Anda itu dengan reaksi berbeda-beda. Ada yang awalnya marah, sedikit gusar, kesal, terkadang nyinyir. Namun pada satu titik akan ada tangan-tangan terbuka yang siap memberi pelukan hangat dan menenangkan.

Beda reaksi sebenarnya wajar saja, karena sebuah keluarga terdiri dari berbagai individu dengan beragam sifat yang berbeda. Ayah dan ibu mungkin berasal dari suku yang berbeda. Kalaupun sesuku, mereka dibesarkan dengan cara berbeda, teman-teman pun berbeda. Campur aduk? Gado-gado? Chaos? Mungkin begitu.

Keluarga bagi kita adalah “sekolah pertama” yang mengajarkan tentang perbedaan. Keluarga pula yang mengajarkan cara beradaptasi, menghadapi dan akhirnya menghargai berbagai perbedaan itu. Di sekolah, di kantor, saat berumah-tangga sendiri, ketika hidup merantau di negara lain, Anda akan menemukan lagi bab-bab berikutnya dari pelajaran beradaptasi terhadap perbedaan dari “keluarga” yang lebih besar.

Semoga, pengalaman apapun yang terjadi, kata-kata di penggalan terakhir dari kutipan di atas akan mengingatkan kita bahwa dalam keluarga tak akan ada seorang pun yang akan ditinggalkan atau dilupakan.

Until next time, beautiful Zere People

Chichi Bernardus

Editor-in-Chief

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.