Lala Ilhamsyah, Membangun Daya Survive dengan Montessori

Anisa Sekarningrum

seorang fresh graduate yang tertarik menulis tentang pariwisata, kuliner, budaya, dan lingkungan.

Lala Ilhamsyah. (Foto: Anisa Sekarningrum)

Zaman yang cepat berubah, bagi Lala Ilhamsyah, menyisakan banyak misteri di masa depan. Ibu rumah tangga itu kini mendalami metode pendidikan Montessori demi menyiapkan diri.

“Setelah belajar, saya makin sadar. Saya dulu yang belajar, diberesin, baru bisa membantu anak saya agar bisa tumbuh dan berkembang sesuai potensi yang ia miliki,” cerita Lala saat kami temui di rumahnya, di kawasan Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Lala mengaku sudah lama tertarik dengan metode pendidikan Montessori, bahkan sejak sebelum ia menikah dan punya anak.

Setelah melahirkan, keinginannya makin menggebu. Ada tiga hal yang membuatnya semakin yakin belajar metode Montessori dengan serius. Yaitu masa lalu, masa kini, dan masa depan.

“Saya merasa mendapatkan pendidikan yang membuat saya tidak tumbuh secara optimal. Saya enggak bilang sistem pendidikan enggak ga bagus ya, hanya saja memang kurang cocok buat saya.”

Hal-hal yang ia temu saat sekolah dan bekerja, meyakinkan atas satu hal: perubahan pasti terjadi.

“Jadi saya harus siapkan apa untuk anak? Lalu kita harus mengajarkan anak seperti apa, karena everything is such a mystery,” ujarnya.

Awal mula

Sebelum memutuskan fokus menjadi ibu rumah tangga, Lala sempat bekerja di beberapa perusahaan. Pada beberapa kesempatan, ia bertemu dengan sejumlah orang yang tak sekolah formal tapi pintar dan kreatif, di bidang teknologi dan data statistika.

Lala mulai merasa, sistem pendidikan yang ia alami sebelumnya memang tak bisa menjawab kebutuhan sebagian orang.

“Dari situ saya mulai mengenal Montessori.”

Saat ini Lala kuliah khusus mendalami Montessori di akhir pekan.  Metode tersebut, menurut Lala, memungkinkan anak-anak belajar sesuai minat mereka, sesuai dengan waktu yang dibutuhkan. Sehingga anak dapat menggali potensi mereka masing-masing.

“Kecepatan setiap anak kan berbeda-beda. Dan itu tidak berarti buruk, loh. Metode ini memungkinkan proses berjalan natural.”

Ketika metode itu diterapkan dengan baik, rasa ingin tahu si anak akan terus terpupuk. Anak juga akan mencintai belajar, gemar eksplorasi, dan mendalami sesuatu dengan perhatian penuh.

“Filosofi di Montessori itu, kita diajarkan bahwa setiap anak itu dilahirkan dengan potensi dan karakter masing-masing, it’s such a humbling experience buat saya.”

Lala bersama anaknya, Nara. (Foto: Anisa Sekarningrum)

Belajar metode Montessori juga membantu Lala mendapatkan gambaran dan panduan untuk menjadi ibu bagi putrinya, Nara.

“Saya terus bertanya-tanya, sebenarnya anak itu butuh apa sih agar kita bisa bantu dia tumbuh optimal, sesuai dengan kepribadian dia.”

Semakin ia berkenalan dengan Montessori, semakin Lala  paham untuk ‘membenahi’ dirinya sendiri. Ini seperti filosofi penggunaan masker oksigen di pesawat: kita harus menolong diri sendiri dulu sebelum menolong orang lain.

Parenthood, motherhood change you to the core. Sebagai orang tua, tidak lagi hanya berpikir hari ini dan besok, tapi juga bagaimana membesarkan anak secara optimal, agar kelak menjadi orang yang bisa berguna bagi orang lain.”

Lala kini merasa lebih pengertian dan berempati kepada anak, mampu menghindarkan diri dari ego membentuk anak. Ia juga merasa lebih dapat membangun potensi sang anak agar tumbuh kembangnya optimal, sehingga kekhawatirannya mengenai daya survive anak, bisa sirna.

 

Masakecil.id

Sebagai ibu baru, Lala butuh support system sesama ibu yang berbagi pengetahuan dan pengalaman seputar anak. Lala pun bergabung dengan komunitas Pejuang ASI. Ketika anaknya semakin besar, Lala sadar akan satu hal:  Nara butuh teman main.

Lala tinggal di perkotaan dengan tetangga yang jarang ditemui. Ia mulai mengundang teman-temannya di komunitas untuk playdate. Lala yang semakin tertarik mendalami child development menemukan informasi seputar sensory playdate.  

Temuan itu terasa pas dengan kebutuhan Lala dan sesama ibu lainnya. Berdirilah Masakecil.id (@masakecil.id). Kegiatannya sebulan sekali.

Sensory Playdate bersama Masakecil.id (Foto: Instagram @masakecil.id)

Sensory playdate ini dilakukan hanya dengan hal-hal sederhana yang ada di rumah, contohnya membuat jeli yang bisa dipegang oleh anak-anak, bermain cat air, sampai belajar memotong roti dengan pisau yang aman.

“Ternyata antusias anak-anak sangat luar biasa. Dan para ibu bisa berbagi pengetahuan dan pengalaman,” ujar Lala.

Teman-teman komunitas Masakecil.id (Foto: Instagram @masakecil.id)

Editor : Sica Harum

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.