Kanker Serviks, Pembunuh Senyap yang Bisa Sembuh 100%

sicaharum

Managing Editor, dapat dihubungi di redaksi@zeremedia.com

Asal ketahuan di fase sangat dini, kanker serviks yang mematikan ini sebetulnya bisa sembuh 100%. Test Pap Smear kini bisa dilakukan di Puskesmas dan gratis menggunakan BPJS Kesehatan.

Sesaat sejak meninggalnya artis Julia Perez pada Sabtu (10/6) mesin pencari Google kebanjiran pencarian informasi “kanker serviks” dan “virus HPV”.

Angka pencarian kata kunci seputar kanker serviks menjadi pencarian paling populer hari itu, dengan jumlah lebih dari 200.000 pencarian.

Banyak yang mencari informasi tentang penyakit ini dengan menuliskan kata pencarian: penyebab kanker serviks, gejala kanker serviks, dan apa itu kanker serviks.

Laman berita BBC Indonesia menulis, fenomena ini mirip ketika Angelina Jolie memutuskan untuk operasi pengangkatan payudara pada 2013, setelah ditemukan mutasi gen yang meningkatkan kemungkinannya terkena kanker payudara.

Pada saat itu, pencarian informasi seputar kanker payudara juga meningkat drastis, sehingga fenomena ini disebut sebagai “efek Jolie”.

Pembunuh senyap 

Di kalangan perempuan, kanker serviks ialah penyebab kematian perempuan yang terbanyak di Indonesia. Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia mencatat, rata-rata 33 perempuan Indonesia meninggal setiap harinya, akibat kanker serviks.

Penyakit ini menghantui perempuan di berbagai usia, utamanya mereka yang sudah berusia di atas 30 tahun, atau sudah aktif secara seksual.

Di tahap awal, penyakit ini tidak memiliki gejala. Namun, jika sudah berada di stadium lanjut, gejala paling umum adalah pendarahan pada vagina yang terjadi setelah berhubungan seks, di luar masa menstruasi, atau setelah menopause.

Meski begitu, pendarahan tidak selalu berarti terkena kanker serviks.

Keluarga kubis-kubisan, seperti kubis, selada, brokoli, diyakini sebagai sayuran yang ampuh menekan risiko berkembangnya sel kanker. (Foto: Pexels)

Penyebab Kanker Serviks  

Dikutip dari rilis helosehat, berikut ialah faktor risiko terbesar penyakit kanker serviks, mencakup gaya hidup dan genetik.

1. Riwayat seksual
Banyak jenis kegiatan seksual yang berkaitan dengan kanker serviks dan infeksi HPV. Misalnya seks sebelum usia 18 tahun, seks dengan banyak pasangan, dan seks dengan seseorang yang pernah memiliki banyak pasangan.

2. Merokok

Ketika seseorang merokok, ia dan orang di sekitarnya terpapar banyak bahan kimia penyebab kanker yang memengaruji organ selain paru-paru.  Perempuan yang merokok lebih beresiko terkena kanker serviks daripada yang tidak merokok.

3. Penggunaan pil KB

Wanita yang pernah menggunakan obat kontrasepsi oral seperti pil KB selama lebih dari lima tahun lebih berisiko terkena kanker serviks. Tetapi risiko ini kembali normal dalam beberapa tahun setelah berhenti menggunakan pil.

4. Diet

Orang-orang yang dietnya tidak mencakup buah-buahan dan sayuran akan lebih berisiko untuk kanker serviks.

Kedua, faktor risiko kanker serviks dari genetik.

Gaya hidup aktif menekan risiko penyakit mematikan. (Foto Ilustrasi: Pexels)

5. Riwayat keluarga
Wanita yang memiliki saudara perempuan atau ibu yang pernah terkena kanker serviks dua atau tiga kali lebih berisiko mengidap kanker serviks.

Ada juga kondisi lain yang membuat perempuan berisiko terkena kanker ini.

6. Kelebihan berat badan
Wanita yang kelebihan berat badan lebih berisiko untuk terkena adenokarsinoma serviks.

7. Kehamilan
Wanita yang telah menjalani tiga kehamilan penuh atau lebih, atau yang mengalami kehamilan penuh pertamanya sebelum usia 17 tahun, dua kali lebih berisiko untuk kanker serviks.

8. Imunosupresi
Pada kebanyakan orang dengan sistem kekebalan tubuh yang sehat, virus HPV akan hancur dengan sendirinya dalam tubh dalam 12-18 bulan. Namun, orang dengan HIV atau penyakit kesehatan lainnya atau yang menggunakan obat-obatan yang membatasi sistem kekebalan tubuh berisiko tinggi terkena kanker serviks.

9. Diethylstilbestrol (DES)

Wanita yang ibunya pernah menggunakan DES, suatu obat yang diberikan pada wanita untuk mencegah keguguran dari tahun 1940 sampai 1971, mengalami peningkatan risiko terkena kanker serviks.

10. HPV
Ini adalah faktor risiko terpenting untuk kanker serviks.

Meskipun HPV menyebabkan kanker, memiliki HPV tidak berarti terserang kanker. Kebanyakan wanita yang memiliki HPV, virus atau sel-sel abnormalnya, HPV-nya akan diangkat setelah pengobatan.

HPV adalah infeksi kulit, menyebar melalui kontak kulit-ke-kulit dari satu orang ke orang lainnya yang memiliki virus. HPV juga menyebar melalui seks, termasuk seks vagina, anal, dan bahkan oral.

Jenis-jens HPV yang berbeda menimbulkan kutil di bagian-bagian tubuh yang berbeda. Sebagian menimbulkan kutil pada tangan dan kaki, yang lain cenderung menimbulkan kutil pada bibir atau lidah.

Beberapa jenis HPV dapat menimbulkan kutil pada atau di sekitar organ kelamin dan daerah anal wanita dan pria. Ini dianggap HPV jenis risiko ringan karena jarang berkaitan dengan kanker, misalnya, kanker serviks, vulva, dan vagina pada wanita.

Diyakini, perempuan harus terinfeksi HPV lebih dulu untuk dapat terkena kanker serviks. Sekitar 60 persen dari semua kanker serviks disebabkan oleh HPV 16 dan 18.

Sebetulnya, infeksi HPV adalah hal yang umum, dan pada kebanyakan orang, tubuh dapat membersihkan infeksi ini dengan sendirinya.

Namun terkadang infeksi tidak menghilang dan menjadi kronis. Infeksi kronis, terutama ketika disebabkan oleh jenis HPV berisiko tinggi tertentu, pada akhirnya dapat menyebabkan kanker tertentu, seperti kanker serviks.

11. Infeksi chlamydia
Chlamydia adalah jenis bakteri umum yang dapat menginfeksi sistem reproduksi yang tersebar melalui kegiatan seksual.

Infeksi chlamydia dapat menyebabkan peradangan panggul, dan kemudian ketidaksuburan.

Wanita yang memiliki hasil tes darah positif dengan infeksi chlamydia di masa lalu atau saat ini (dibandingkan dengan wanita yang memiliki hasil tes normal), berisiko terkena kanker serviks.

Namun tidak ada gejala pada wanita yang terinfeksi dengan chlamydia, mereka bahkan mungkin sama sekali tidak tahu bahwa mereka terinfeksi sampai mereka dites untuk chlamydia selama pemeriksaan panggul.

Ilustrasi. (Foto: Shutterstock/RioPatuca)

Apa yang harus dilakukan?

Kementerian Kesehatan menganjurkan masyarakat, khususnya perempuan, untuk melakukan deteksi dini kanker serviks atau leher rahim dan kanker payudara untuk mencegah angka kesakitan dan kematian.

Tujuannya, agar penderita tidak kehilangan periode emas penyembuhan.

“Dengan deteksi dini, kejadian kanker dapat ditemukan lebih awal sehingga keberhasilan pengobatannya semakin besar,” kata Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan Oscar Primadi, dalam keterangan tertulis, Minggu, 11 Juni 2017.

Deteksi dini kanker leher rahim dilaksanakan dengan metode Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) dan tindak lanjut dini dengan krioterapi jika ditemukan IVA positif. Sedangkan deteksi dini kanker payudara dengan metode pemeriksaan payudara secara klinis (SADANIS).

Menurut Oscar, saat ini lebih dari 3.700 puskesmas di seluruh Indonesia telah dilatih dalam pelayanan deteksi dini penyakit kanker payudara dan leher rahim.

Sedangkan untuk pengobatan segera dilakukan di rumah sakit kabupaten/kota secara berjenjang untuk rujukan kasus kanker.

“Biaya deteksi dini kanker payudara dan kanker serviks (tes IVA) di Puskesmas sudah masuk dalam pembiayaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola oleh BPJS Kesehatan,” ujarnya.

Oscar juga menyebutkan, seringkali pasien yang terdeteksi terkena penyakit kanker serviks dan kanker payudara di stadium awal tergoda dengan pengobatan alternatif yang belum jelas kebenarannya.

“Kita perlu mengawasi dan mengevaluasi efektifitas dan meneliti dampak lain yang ditimbulkan. Iklan yang jelas-jelas melanggar ketentuan tersebut, akan berdampak buruk dan menimbulkan kerugian, bahkan bisa membahayakan karena pasien kehilangan fase emas pengobatannya dan menjadi tidak terselamatkan,” ucap Oscar.

Ilustrasi Vaksin HPV. (Foto: GettyImages)

Vaksin HPV, Seberapa Efisien? 

Salah satu langkah menghindari penyakit yang disebabkan infeksi human papillomavirus (HPV) ialah dengan melakukan vaksinasi HPV.

Namun, Principal Investigator Stem Cell and Cancer Institute Ahmad Rusdan Handoyo Utomo, Phd, berpendapat bahwa vaksinasi tidak memberikan perlindungan 100 persen terhadap risiko kanker serviks.

“Saat ini ada 15 jenis tipe HPV berbahaya di dunia. Empat diantaraya, yaitu HPV tipe 16, 18, 45, dan 52, ada di Indonesia,” ujar Ahmad, dalam acara buka bersama PT Kalbe Farma Tbk di Jakarta Pusat, Selasa, 13 Juni 2017.

Tetapi, vaksin yang digunakan yang digunakan oleh pemerintah belum mencakup keempat jenis HPV tersebut, melainkan hanya HPV tipe 16 dan 18 yang memang berisiko tinggi.

Meski begitu, vaksin bukannya tak berguna. Vaksin efektif untuk mencegah apabila diberikan kepada perempuan yang belum melakukan hubungan seksual sebelumnya.

“Kalau HPV sudah masuk ke dalam sel, vaksin tidak bisa bantu. Vaksin hanya bisa mencegah jangan sampai HPV masuk ke sel,” katanya.

Perempuan muda di bawah 30 tahun umumnya memiliki daya tahan tubuh bagus untuk mengusir HPV. Namun, setelah usia 30 tahun, vaksin harus dikombinasikan dengan Pap smear dan tes HPV untuk mencegah infeksi.

“Kalau periksa Pap Smear, bisa jadi sel normal tapi sudah ada virus. Kalau ada virus 45, misalnya, dokter pasti akan agresif. Langsung diteropong, dicongkel, diperiksa di laboratorium, dan dibersihkan betul-betul,” jelasnya.

Dia juga menegaskan, kanker serviks yang ketahuan di fase sangat dini bisa sembuh 100 persen.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.