Bunga Mega, Meraih Loyalitas Lewat Komunitas

Dunia informasi yang bergerak cepat tak menyisakan banyak ikatan atau kenangan. Tak mengherankan jika Anda mudah lupa dengan apa yang Anda lihat, baca, dengar, atau bahkan sesuatu yang Anda ucapkan. Dari sudut pandang sebuah brand, kondisi ini menyisakan suatu pekerjaan besar.

Bagaimana agar brand selalu diingat oleh target penggunanya?

Tidak sedikit brand yang kemudian berkomunitas untuk membangun keterlibatan lebih dalam dengan konsumen (customer engagement). Bisa dengan cara mendekati komunitas yang sudah terbangun, atau justru membangun komunitas sendiri. Beberapa berhasil, tetapi tak sedikit pula yang gagal.

Bunga Mega, pendiri komunitas CeweQuat, ingin berbagi tentang hal-hal yang sebaiknya diperhatikan saat membangun komunitas melalui sesi wawancara berikut ini :

Apa kesalahan paling umum sehingga sebuah komunitas tak bisa terus berjalan?

Kesalahan yang paling umum terjadi ialah menjadikan komunitas sebagai tujuan. Padahal, komunitas itu tumbuh secara organik. Mengikuti solusi yang dapat diberikan pendiri komunitas kepada mereka yang ingin bergabung di dalamnya.

Jadi, sebetulnya mindset yang harus dibangun adalah, solusi apa yang bisa didapatkan orang-orang yang mau bergabung di komunitas? Dan mengapa mereka harus bergabung di komunitas tersebut.

Bagi saya, mendirikan komunitas sama dengan mendirikan bisnis. Segala sesuatu ada model dan modulnya.

Mengapa ada komunitas yang tidak sustain? Hal itu kembali lagi kepada visi sang pendiri. Apakah komunitas hanya menjadi sebuah tempat kumpul-kumpul semata, atau komunitas yang memiliki visi, apapun itu.

Sustainability hanya sebuah hasil atau akibat dari kedua pilihan di atas.

Apa hal dasar yang dibutuhkan dalam membangun komunitas?

Saya pribadi sudah enggak melihat bisnis cuma sekedar B2B (business to business), atau B2C (business to customer), atau O2O (online to offline). Kini, sudah perlu pendekatan H2H, alias human to human engagement.

Dengan informasi yang semakin masif  dan semakin banyak pilihan, manusia tetap perlu disentuh hatinya.

Komunitas adalah kumpulan orang yang telah tersentuh hatinya dan dengan sadar memilih untuk bergabung berbagi cerita , solusi, dan lainnya.  Jadi, personal touch semacam ini justru semakin berperan dalam membangun peranan komunitas yang sukses

Secara teknis, ada tiga hal yang menjadi pondasi dalam membangun komunitas. Yang pertama, apa ikatan emosional yang terbentuk di komunitas itu. Apa visi dari komunitas tersebut?

Kedua, membangun komunitas harus dengan ketulusan yang ditunjukkan secara konsisten. Anda tidak bisa membangun komunitas yang berumur panjang jika sejak awal sudah menargetkan komunitas tersebut sebagai target pasar produk. Tanpa memikirkan lebih jauh tentang bagaimana membuat anggota komunitas menjadi lebih berdaya.

Karena itu komunitas harus memiliki figur yang hadir dan terlihat oleh anggota komunitas lainnya. Siapkan sosok yang punya waktu, komitmen, dan ketulusan berbagi pengetahuan, atau pengalaman dengan anggota komunitas lainnya.

Ketiga, kegiatan offline harus menjadi agenda rutin. Hal ini penting untuk menjaga ikatan emosional sesama anggota komunitas.

Bagaimana peran seorang community manager dalam membangun hal tersebut?

Community manager atau community officer adalah contoh profesi baru di era digital yang dapat “dicicipi” generasi milennial.

Tapi, masih banyak yang salah kaprah.

Pekerjaannya mungkin community officer atau community manager, tetapi hanya diberi tugas sebagai admin. Sekadar posting quotes, jagain backend/admin deck jika ada orang yang bertanya dan sebagainya.

We are talking about community. We are talking about human. Bukan benda mati. Mereka bernapas, berpikir, punya kepentingan masing-masing. Nah, tugas seorang community manager ini adalah menilai mana calon anggota komunitas yang jadi sasaran. Ini namanya menetapkan target pasar.

Setelah itu, baru breakdown lagi untuk menentukan persona. Apa kebutuhan mereka, apa pain factor-nya, bagaimana aktivitas harian mereka, apa yang menjadi ‘what’s in it for me’.

Jadi, kalau perusahaan masih mempekerjakan fresh graduate apalagi intern yang tidak memiliki keterampilan strategic leadership dan pengembangan bisnis, maka sesungguhnya brand hanya meng-admin-kan sekumpulan orang di dalam komunitas.

Seorang manajer komunitas harus mampu menilai target pasar, menyusun strategi, dan melihat gambaran besar komunitas tersebut. Baru setelah itu, ia bisa menurunkannya ke langkah-langkah kecil mencapai target.

Dan yang perlu diingat, semua itu membutuhkan waktu. Membangun komunitas adalah sesuatu yang organik.

Anda mungkin bisa beli followers atau beriklan di seluruh kanal media sosial. Namun pada akhirnya, loyalitas tidak akan pernah bisa dibeli walaupun zaman sudah semakin canggih.

Apa yang Anda pelajari saat membangun dan menjalankan komunitas CeweQuat?

CeweQuat, Komunitas yang Bergerak untuk Mengedukasi Kaum Perempuan

Sebetulnya membangun CeweQuat adalah awal ketidaksengajaan. Tahun 2012, komunitas juga belum se-hype sekarang.

Dulu saya memulai dari blog pribadi untuk sekadar sharing kepedulian saat itu. Saya ingin perempuan enggak menye-menye, lebih aware dengan dirinya sendiri, sehingga lebih kuat menjalani konsekuensi atas semua pilihannya.

Namun dalam perkembangannya, komunitas itu terbentuk secara organik. Lalu saya memilih untuk berkomitmen penuh di komunitas CeweQuat. Saya betul-betul merasakan bahwa kegelisahan ini menjadi sesuatu yang tidak dapat saya abaikan.

Lalu saya berhenti dari corporate slave menjadi seorang self-employed. Perlahan-lahan naik ke jenjang entrepreneur demi visi saya pada komunitas CeweQuat.

Awalnya ada perang batin juga. Haramkah jika CeweQuat di-monetize? Sebab, bagaimana komunitas ini bisa sustain kalau founder-nya juga tidak sustain. Dari situ, saya memantapkan diri untuk menjadikan CeweQuat sebagai community based-company.  Komunitas ini memberikan solusi kepada pelaku bisnis untuk bersosialisasi melalui media komunitas CeweQuat.

Dalam perjalanannya, saya makin mantap melihat bahwa setiap komunitas yang punya visi besar memang harus bisa dikelola dengan perspektif bisnis. Boleh kepada brand atau  anggota komunitas itu sendiri. Jika tidak begitu, maka akan sulit mengembangkan dan menjaga kesinambungan komunitas.

Jadi intinya, jika Anda cukup happy dengan komunitas beranggotakan 100 orang, ya enggak apa-apa. Tapi jika ingin memberdayakan satu negara, ya kuncinya adalah monetisasi komunitas.

Lebih jauh, apa yang sedang Bunga lakukan di cewequat?

Saat ini kami sedang melakukan transformasi. Media komunitas CeweQuat.com awalnya merupakan media yang memuat tips dan trik seputar dunia perempuan. Kini kontennya akan dibuat lebih spesifik sebagai sebuah forum online untuk komunitas female first jobber.

Kenapa fokus kepada perempuan? Karena saya mendukung gerakan  Planet 50:50 by 2030 yang diinisiasi PBB. Saya juga setuju dengan apa yang dikatakan Mahatma Gandhi, “When you educate a man, you educate a man. When you educate a woman, you educate a generation.”

Di forum CeweQuat, akan ada kategori finding your mentor, finding job opportunities, hingga fitur untuk bertanya kepada para pelaku dan pakar SDM (Sumber Daya Manusia).

Kami juga sedang menyiapkan berbagai tes minat bakat, tes kepribadian dan lain sebagainya. Sebab berdasarkan survei, 85% mahasiswa mengaku salah jurusan dan tidak tahu arah tujuan karier mereka.

Ada pula survery lain yang menyebutkan bahwa 1 dari 2 perempuan di jajaran eksekutif di Amerika Serikat mengakui pentingnya peran mentor saat mereka masih muda.

Jadi, pain factor dari para first jobber inilah yang akan kami akomodasi di CeweQuat.com. Semoga forum ini juga dapat menjadi media interaksi yang mendatangkan kesempatan berjejaring dengan ribuan perempuan lainnya.

 

Jika tidak ada aral melintang, format baru ini sudah dapat dinikmati di pertengahan tahun ini. Amin.

 

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.