Anakmu Bukan Anakmu…

chichi bernardus

Editor-in-Chief

Ibu dari Reginald, Jadzia, Leila dan Meira yang suka menyeduh teh dan menghidu minyak atsiri. Aktif sebagai anggota The Climate Reality Project dan Slow Food. Founder dari Wastra Carita dan Ra'Medheni Bags. Guru Yoga untuk anak ini pernah menjadi pemimpin redaksi Majalah Fit, Women's Health Indonesia, Men's Health Indonesia dan Marketplus.co.id. Bersama Bunga Mega, Chichi mendirikan komunitas Mamaboss Indonesia.

 

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu

Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu
Karena mereka memiliki ikiran mereka sendiri

Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh tapi bukan jiwa mereka,
Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi

Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu
Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu

Engkau adalah busur-busur tempat anak-anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan

Sang pemanah telah membidik arah keabadian, dan ia meregangkanmu dengan kekuatannya sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh

Jadikanlah tarikan tangan sang pemanah itu sebagai kegembiraan
Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang, maka ia juga mencintai busur yang telah diluncurkannya dengan sepenuh kekuatan.

 

Saya sangat suka membaca puisi karya Kahlil Gibran ini, karena itu sengaja saya kutip untuk editor’s note bertepatan dengan Hari Anak Nasional 2017. Puisi ini secara tegas menyiratkan dan menyuratkan tip-tip bagaimana cara menjadi orangtua yang semestinya bagi anak-anak.

Susah? Pastinya. Terutama di larik ini:

Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu
Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu.

Saya ingat waktu pertama kali melahirkan, rasanya ingin segera memasukkan Reginald ke pre-school terbaik, mengantarnya les musik,  les komputer dan sebagainya, dan sebagainya. Belakangan, setelah Reginald masuk masa sekolah, saya melihat dia suka dengan segala sesuatu yang berbau mesin dan mobil. Reginald suka menyanyi tapi tak tertarik memainkan alat musik. Sempat bikin loyo karena keluarga kakek dari ayahnya semua pintar memainkan alat musik.

Siapa sangka…berbelas tahun kemudian, saya dapati Reginald mahir bermain gitar, padahal ia tak pernah les secara formal. Somehow…sebagian cita-cita saya untuk Reginald ‘terpenuhi’ tapi bukan dengan cara yang saya mau, melainkan dengan cara yang Reginald pilih dan inginkan.  Cerita dengan ketiga adik-adiknya pun serupa. Mereka punya cara sendiri untuk mencapai keinginannya.

Reginald, Jadzia, Leila and Meira

Masih menurut Gibran, sebagai orangtua kita harus menjadi seperti busur yang siap meluncurkan anak-anak panah dengan penuh sukacita.

Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang, maka ia juga mencintai busur yang telah diluncurkannya dengan sepenuh kekuatan.

Maka mari, di Hari Anak Nasional ini kita belajar menjadi orangtua yang dapat memfasilitasi cita-cita anak, membimbingnya, sekaligus melindunginya dari berbagai hal termasuk perundungan yang belakangan ini marak terjadi. Mari…kita antarkan anak-anak kita menuju cita-cita dengan sepenuh kesadaran bahwa hidup terus berjalan ke depan, dan bukan ke belakang.

 

Until next time, beautiful people.

 

Chichi Bernardus

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.