7 Tips Menjadi Ibu Bekerja yang Tetap Dekat dengan Keluarga

sicaharum

Managing Editor, dapat dihubungi di redaksi@zeremedia.com

Lima tahun terakhir, jumlah ibu bekerja di Indonesia semakin meningkat.

Data pada 2015 menunjukkan, 38% dari 121 juta pekerja di Indonesia adalah perempuan. Sebagian besar adalah ibu bekerja.

“Ibu bekerja memiliki lebih banyak peran, dibandingkan sebelum berkeluarga. Jika tidak bisa atur waktu dengan efektif, bakal banyak masalah,” kata ahli parenting Nenden Esti Nurhayati dari Yayasan Kita dan Buah Hati, Kamis, 27 Juli 2017, di Jakarta.

Dalam diskusi parenting bertema ‘Parentpreneurship, Menciptakan Kesuksesan Keluarga dan Karir’ yang digelar Pacific Place dan Dompet Dhuafa itu, Nenden mengingatkan peran orang tua tak hanya berada pada ibu semata.

Ia berbagi tips untuk ibu bekerja agar lebih ringan menjalankan perannya.

Syukuri perasaan bersalah

Menurut Nenden, banyak ibu bekerja yang terlalu sering izin untuk urusan anak.

Misalnya ketika anak sakit, hingga mengambil raport. “Banyak ibu merasa bersalah jika tidak melakukan hal ini.”

Hati-hati Moms, perasaan ini bisa berbalik menjadi tidak produktif. Anda bukan manusia super, punya batas fisik dan emosi.

Namun, tetap bersyukur dengan perasaan ini. Itu artinya “alarm” Anda sebagai ibu, masih nyala. Hanya saja, atasi dengan cerdas.

Jika kenyataannya Anda harus dan memilih bekerja, maka tanggung jawab mendampingi anak, seperti hadir di acara-acara ekstra kurikuler, bisa dibagi juga dengan suami.

Membuat rencana dan jadwal bersama suami

Duduk bersama suami dan bahas semua agenda dan acara, baik urusan kantor, keluarga besar, dan anak-anak.

Gunakan kalender keluarga agar dapat diketahui beban waktu masing-masing. Ini juga bisa menjadi cara untuk mengevaluasi, apakah pekerjaan orang tua memang berkontribusi positif untuk keluarga.

Atau jangan-jangan, Anda kelihatannya bekerja, tapi gaji hanya habis untuk biaya operasional yang sesungguhnya tidak dibutuhkan apabila tidak bekerja.

Manajemen waktu yang tepat

Setelah bekerja, tentu saja wajar apabila kita kembali ke rumah dalam keadaan lelah. Namun ingat, ada anak yang perlu disapa dan diajak bicara.

Coba evaluasi penggunaan waktu Anda. Apakah ada waktu yang dihabiskan untuk window shopping tanpa tujuan? Atau ada rapat yang tak perlu Anda hadiri?

Kuncinya, prioritas.

Toh me time, tak selalu tentang belanja gila-gilaan di mal atau nyalon.  Jika Anda suka dan mencintai pekerjaan Anda, bukankah itu bisa juga dikategorikan me time?

Jadikan semua mudah

Hindari beban yang tak perlu sebagai ibu. Kuatkan hati dan pikiran, Anda bisa melewati hari-hari sebagai ibu, istri, dan pekerja.

Delegasikan hal yang bisa didelegasikan. Dengan begitu Anda malah berbagi rezeki dan berkah buat orang lain.

Tak sempat belanja bulanan, ya belanja online saja.

Tak sempat menentukan menu untuk dimasak ART di rumah, ajak anak-anak sesekali makan bersama di luar.

Intinya, semua harus dibuat dan dipikir mudah.

Bicarakan dengan atasan

Saat ini sudah banyak perusahaan yang berkonsentrasi pada hasil, dan mempercayakan pekerja menjalankan cara terbaik untuk mencapainya.

Bicarakan dengan atasan tentang kemungkinan Anda remote working dari mana saja. Apalagi jika Anda memang pekerja dengan performa tinggi, tentu punya daya tawar lumayan.

Tetap terkoneksi dengan keluarga

Optimalkan teknologi yang ada di genggaman. Manfaatkan ponsel pintar Anda untuk ber-face time atau video call dengan anak dan suami.

Beri kejutan-kejutan seru secara random. Mulai dari surat pendek yang diselundupkan ke tas anak, tempelan post it untuk suami, atau kiriman kue yang Anda beli secara online.

Ramah dan ikhlas mengasuh anak

Jangan memikirkan pekerjaan saat bersama anak. Lakukan blocking time dengan optimal.

Misalnya, satu jam bersama anak. Maka dalam periode itu Anda tidak bisa diganggu dengan pekerjaan, apalagi sekedar notifikasi messenger dan media sosial.

Jauhkan ponsel. Curahkan perhatian dan fokus penuh pada anak. Work can wait.

Jika Anda telah mengelola waktu dan berbagi peran dengan suami, maka Anda pasti dalam kondisi fisik dan emosi yang sehat ketika bersama anak.  Tentu akan lebih mudah untuk ramah, sekaligus sabar saat bersama mereka.

 

 

 

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.