7 Pesan dari Silicon Valley untuk Pebisnis Pemula

Melita Rahmalia

Love to write about women empowerment, career and business, and relationships.

Banyak perusahaan baru, utamaya startup digital bermunculan dalam lima tahun terakhir. Apalagi Pemerintah Indonesia menargetkan tumbuhnya 1.000 start-up digital pada tahun 2020. Apakah Anda salah satu yang memutuskan untuk mendirikan perusahaan sendiri?

Kalau iya, Anda perlu membaca buku “The Hard Thing About Hard Things: Building A Business When There Is No Easy Answer.” Buku yang satu ini ditulis oleh salah satu “gurunya” para pendiri start-up di Silicon Valley, Ben Horowitz.

Pria yang mendirikan perusahaan teknologi itu menulis buku yang menyajikan realita keras sebuah bisnis baru. Jauh dari buku manajemen yang akademis, atau penuh dengan optimisme.

Perusahaan yang didirikan Horowitz akhirnya memang berhasil dijual dengan harga 1.6 miliar dollar. Namun buku ini tidak lebih banyak menyajikan berbagai masalah yang harus ia hadapi dan perjuangan yang dirasakannya.

ZereMedia ingin berbagi 7 quote paling menarik dan thought-provoking yang bisa Anda temui dan renungi di buku ini.

  1. “My old boss Jim Barksdale was fond of saying, ‘We take care of the people, the products and the profits…in that order’.”

Horowitz pun belajar bahwa memang ia harus mengurus orang-orang yang bagus dulu untuk perusahaannya. Setelah ia menemukan orang-orang yang pas dan bagus, maka mereka akan mampu menciptakan produk yang bagus.

Hal ini patut untuk dipikirkan karena kebanyakan dari kita terlalu fokus kepada produk yang bagus, sementara mengabaikan motivasi karyawan, atau mengejar keuntungan dengan kurang memikirkan kelanggengan produk dan karyawan dalam jangka panjang.

  1. “Spend zero time on what you could have done, and devote all of your time on what you might do.”

Sepanjang pengalamannya menjadi CEO, banyak sekali momen-momen di mana ia baru tahu apa yang harusnya ia lakukan setelah terjadi kesalahan.

Mungkin ini juga yang sering Anda rasakan ketika Anda harus mengambil keputusan ketika tidak ada keputusan yang kelihatan bagus di mata Anda. Disini, Anda akan tergoda untuk fokus ke masa lalu dan memikirkan apa yang harusnya Anda lakukan sebelumnya.

Saran dari Horowitz, jangan buang waktu untuk memikirkan hal tersebut, dan fokuskan semua waktu Anda untuk memikirkan apa saja hal yang bisa Anda lakukan untuk sekarang.

  1. “The most important lesson in entrepreneurship: Embrace the struggle.”

Untuk menjadi seorang pengusaha, Horowitz mengatakan bahwa Anda perlu menjadi seseorang yang mampu mengambil keputusan di antara dua hal: hal yang sangat tidak mengenakkan dan hal yang sangat buruk.

Ketika bekerja untuk Anda sendiri, tidak ada yang bisa Anda salahkan, dan tidak ada lagi yang bisa mengambil keputusan selain Anda sendiri. Anda akan diminta untuk berjuang, ketika target Anda tidak tercapai, ketika Anda harus memikirkan bagaimana caranya agar orang-orang di perusahaan Anda bisa berkomunikasi dengan baik, dan apa yang harus Anda lakukan ketika terus-terusan didera masalah.

Maka, untuk menjadi seorang pengusaha, akan jauh terasa lebih efektif ketika Anda siap menerima semua masalah yang harus Anda selesaikan dan perjuangan yang harus Anda lakukan.

  1. “Whenever I meet a successful CEO, I ask them how they did it. Mediocre CEOs point to their brilliant strategic moves or their intuitive business sense or a variety of other self-congratulatory explanations. The great CEOs tend to be remarkably consistent in their answers. They all say, “I didn’t quit.”

Banyak pengusaha yang sangat bagus dalam memulai sesuatu. Tapi, banyak di antara mereka yang mempunyai sifat finisher? Horowitz berbagi bahwa banyak CEO yang sukses justru merasa bahwa  rahasia kesuksesan mereka adalah karena mereka tidak berhenti. Inilah gunanya belajar loyalitas ketika Anda bekerja menjadi staff di perusahaan. Karena, ketika Anda akhirnya menjadi seorang pengusaha, Anda perlu memiliki loyalitas kepada ide dan visi yang ingin Anda wujudkan.

  1. “CEOs should not play the odds. When you are building a company, you must believe there is an answer and you cannot pay attention to your odds of finding it — you just have to find it. It matters not whether your chance is at 9 in 10 or 1 and 1000, your task is the same.”

Sebagai makhluk yang – katanya – rasional, sering kita mencari pembenaran atas tindakan kita dengan memikirkan seberapa mungkin apa yang kita inginkan, apa yang kita tentukan, bisa benar-benar terwujud.

Well, ketika menjadi pengusaha, Anda tidak bisa lagi melakukan ini kalau ingin menjadi efektif. Anda harus benar-benar hanya memikirkan bagaimana Anda bisa menemukan jawaban yang Anda perlukan.

Anda tidak bisa berpikir bahwa tentang kemungkinan-kemungkinan bahwa Anda salah, atau tidak bisa menemukan jawabannya. Sebagai CEO, tugas Anda adalah menemukan jawaban dari berbagai masalah, bukan menebak-nebak apakah Anda benar-benar bisa menemukannya.

  1. “Sometimes an organization doesn’t need a solution; it just needs clarity.”

Namun, terkadang, harus Anda sadari juga bahwa tidak semua masalah perlu diselesaikan. Apa yang kelihatannya seperti masalah, ternyata bukan benar-benar masalah.

Misalnya, jika karyawan komplain tentang suatu hal. Apakah hal tersebut benar-benar merupakan suatu masalah? Atau mereka mengeluh karena mereka hanya tidak paham saja? Jangan menganggap semua cerita sebagai masalah, tetapi banyak-banyaklah belajar memahami dulu apa yang sebenarnya harus dilakukan atau dibutuhkan dalam suatu keadaan.

  1. “The only thing that prepares you to run a company is running a company.”

Sebagai seorang pendiri perusahaan, tentu banyak momen di mana Anda merasa bahwa Anda tidak tahu apa yang harus Anda lakukan. Banyak hal yang salah terjadi yang sebenarnya bisa Anda hindari.

Namun, semua orang mengharapkan Anda bisa menentukan segala sesuatunya sendiri. Di saat seperti ini, Anda harus bisa memahami bahwa memang tidak ada yang bisa membantu Anda untuk mempersiapkan diri Anda. Bantu diri Anda dengan menghadapi dan menyelesaikan setiap masalah tanpa terlalu tenggelam dalam perasaan bahwa semua hal yang salah adalah kesalahan Anda.

 

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.